Jumat, 01 Juli 2016

Pelancong Nusantara

Pengunjung Nusantara menentukan kontribusi krusial pada pemasukan pariwisata Indonesia. Pengembangan program atraksi liburan perlu disertai promosi kreatif dengan jitu sasaran.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esty Reko Astuti, Rabu (15/7/2015), dalam Jakarta, menyebut, wisatawan Nusantara menggandrungi bentuk berwisata alam juga budaya di lokasi-lokasi yang tersebar di Jawa dan Bali, mirip Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, serta Bali. Berada pula destinasi yang berada pada Sumatera Utara juga Sumatera Selatan.

”Dalam satu kali kunjungan, pengeluaran rata-rata seorang wisatawan Nusantara Rp 750.000. Jika dikali dan jumlah kunjungan atau perjalanan, nilai pemasukan ke perekonomian pariwisata besar,” ujar Esty.

Wisata Terindah Nusantara


Bagi informasi Kementerian Pariwisata, jumlah perjalanan wisatawan Nusantara terus menghadapi kenaikan selama lima musim terakhir. Pada 2009, total perjalanan sebagai 229,73 juta serta pengeluarannya Rp 137,91 triliun. Lalu, season 2014, keseluruhan perjalanan tercatat 251,20 juta dan pengeluaran Rp 213,94 triliun.

”Tren pergerakan wisatawan Nusantara saat ini menyukai bepergian dalam ketika usai minggu yang panjang. Strata menengah di Indonesia bahkan kian beralih menuju destinasi berlibur alam ataupun budaya yang jarang dikunjungi,” ujar Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Mumus Muslim.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel juga Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B Sukamdani mengucap, sejak 17 Juni setelah 17 Agustus, Perhimpunan menggandeng maskapai Garuda Indonesia untuk menyelenggarakan promo Hore Vaganza. Promo berlaku di 17 kota destinasi yang dihadapi oleh rute penerbangan Garuda Indonesia, semacam Surabaya dan Medan.

Pejabat Public Relations and Marketing Communication PT Go Internet Destinations atau pegipegi.com Anggara Yudha Pratama menyatakan jika pihaknya memperoleh program liburan ke Indonesia sesi timur. Perusahaan bahkan mengajak blogger perjalanan sebagai duta.

Jumat, 17 Juni 2016

Bukit Batu Yang Eksotis

Lumut basah melekat di bebatuan yang menjulang tinggi. Angin di sela-sela bongkahan batu, mengayunkan akar-akar gantung pohon beringin serta kain kuning di selingkungan balai keramat, tempat sesajen untuk roh leluhur juga penjaga alam tidak kasat mata di Bukit Batu.

Taman Liburan Bukit Batu terletak pada Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, atau 70 kilometer arah barat laut dari Palangkaraya. Taman yang serta makin dimengerti dan Pertapaan Pahlawan Nasional Tjilik Riwut tersebut ada dalam kontra tanah seluas 6 hektar dalam sisi utara Cara Trans-Kalimantan.

Batu-batu sebesar rumah berdiri kokoh, berderet-deret membentuk gugusan bukit yang membentang dari utara ke selatan dan panjang 80 meter dengan lebar 30 meter. Bukit batu yaitu tempat keramat atau sakral serta biasa digunakan demi bertapa, khususnya pada malam Jumat atau saat bulan purnama.

Dahulu, Riwut Dahiang, ayahanda Tjilik Riwut, pahlawan nasional dari Kalteng, mendambakan keturunan anak laki-laki. Setiap kali Piai Riwut sang istri melahirkan anak laki-laki, sangat saja meninggal dunia saat anak tetap balita. Riwut Dahiang pada akhirnya memohon petunjuk dengan bertapa dalam Bukit Batu, agar kelak dianugerahi anak laki-laki. Wangsit yang disabet mengakui putra laki-laki ini akan mengemban tugas khusus buat seluruh kalangan.

”Bukit Batu itu ialah tempat tinggal Raja Para raja, keturunan Bawin Kameloh serta Burut Ules,” kata Petugas Pengelola Bukit Batu Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dengan Pariwisata Katingan, Samson (33), Sabtu (14/2/2015). Samson mengucap, nama Raja Penguasa hanya dikenali orang-orang tertentu yang memperoleh kesaktian atau tingkat spiritual yang tinggi.

”Orang yang menggapai niat khusus, misalnya mau berhasil dalam studi, lancar karier, dan bisa usaha sering memohon petunjuk atau bersemadi pada sini. Setelah permohonannya dikabulkan, mereka akan kembali lagi merebut sesajen misalnya ayam, kambing, bahkan sapi. Selain ini, mereka begitu juga meletakkan kain kuning selama dua meter di lokasi merekapun memohon,” kata Samson.

Batu istimewa


Pada Bukit Batu ini setidaknya berada 12 batu yang memiliki nama dengan keistimewaan tertentu sebagai Batu Banama, Batu Keramat, Batu Sial, Batu Dewa, Batu Penyang, Batu Darung Bawan, Batu Teras Pambelum, Batu Gaib atau Bertapa, Batu Raja, Batu Nyapau, Batu Tingkes atau Nenung Pambelum, serta Batu Kamiak.

Batu Banama (artinya jukung atau perahu besar) adalah pintu gerbang untuk masuk menuju lingkungan bukit batu. Jikalau di perhatikan dari sisi depan, bentuknya menyerupai peta Kalteng. Batu ini mempunyai 9 cekungan, yang konon ceritanya menunjukkan jumlah anak sungai yang ada dalam Kalteng.

Kamis, 19 Mei 2016

Bebalung, Sajian Penambah Tenaga Khas Lombok

Banyak yang mengira Bebalung adalah makanan seperti halnya gulai atau soto daging. Sekilas memang wujudnya mirip dengan makanan-makanan itu, namun Bebalung justru mempunyai makna alias arti yang berbeda dengan yang banyak dipikirkan oleh orang kebanyakan. Makanan khas Lombok ini dalam bahasa Sasak berarti “tenaga”. Karenanya masyarakat setempat mengartikan setelah makan Bebalung akan semakin bertenaga dan menumbuhkan vitalitas. Menarik bukan?

Bebalung terbuat dari tulang iga sapi atau kerbau yang dicampur dengan racikan bumbu yang terdiri dari cabe rawit, bawang putih, bawang merah, lengkuas, dan kunyit ditambah jahe agar rasa pedas cabenya memiliki ciri khas tersendiri. Selain itu tambahkan sedikit garam dan asam agar masakan lebih awet. Racikan bumbu semacam ini oleh masyaralat Sasak disebut sebagai ragi rajang. Cara membuatnya pun sangat sederhana. Tulang iga atau tulang ekor sapi atau kerbau dipotong sesuai selera. Setelah dibersihkan dan direbus hingga matang dan dagingnya empuk, barulah dicampur dengan racikan bumbu yang telah dihaluskan dan ditumis. Bumbu dan bahan baku Bebalung yang telah matang ini direbus kembali sekitar 30 menit agar bumbunya meresap ke dalam daging.

Kelezatan Makanan Khas Bebalung


Penyajian Bebalung biasanya dengan mangkok dan ditaburi bawang merah goreng berikut dengan nasi putih. Bagi penyuka pedas, bisa ditambahkan sambal. Bebalung paling enak dihidangkan saat masih panas. Masakan ini semakin enak jika disantap bersamaan dengan Plencing. Itu mengapa sering disebut dengan Bebalung Plencing. Perut keroncongan plus sajian yang menarik ini pasti membuat hasrat makan Anda memuncak.

Bebalung merupakan menu wajib yang selalu dihidangkan pada setiap hajatan masyarakat Lombok selain Ares. Tapi jangan khawatir, Anda sebagai wisatawan tetap bisa mencicipi hidangan ini di beberapa warung dan rumah makan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu depot makan yang cukup dikenal meracik Bebalung adalah Depot Kelebet yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto, letaknya tepat berada di belakang kantor Gubernur NTB. Dengan Rp. 25.000 saja, kita dapat menikmati kelezatan masakan ini. Keistimewaan Bebalung di depot ini karena dagingnya sangat lunak sehingga tanpa gigitan yang kuat, dagingnya mudah lepas dari tulang. Bersiaplah dengan antrean super panjang karena depot ini cukup ramai terlebih saat jam makan siang. Rumah makan yang menyediakan Bebalung juga ada di daerah Ampenan yakni di Rumah Makan Ramayana. Tempat makan yang berada di Jalan Raden Saleh Sungkar berada tepat di jalan utama menuju Pantai Senggigi dari kota Mataram. Depot ini cukup lama berdiri karena sudah ada sejak tahun 1976. Ciri khas sajian Bebalung Rumah Makan Ramayana adalah rasanya yang gurih, empuk dan pedas.

Kuliner dari wisata Lombok lainnya yang harus Anda cicipi adalah Sate Bulayak, Ayam Taliwang dan Nasi Balap Pucung Inaq Esun. Semuanya bercitarasa pedas, jadi bersiaplah lidah Anda akan terbakar. Jika ingin lebih lama di Lombok, sebaiknya pilihlah yang nyaman dan tidak jauh dari pusat kota. Beberapa hotel yang berada di seputaran kota Mataram adalah Lombok Raya Hotel, Lombok Garden Hotel dan Grand Leqi Hotel.

Minggu, 15 Mei 2016

Pantai Kuta, Mutiara di Selatan Lombok

Bali mempunyai Pantai Kuta yang serba hiruk pikuk. Lombok Selatan pun mempunyai pantai dengan nama dan keindahan yang sama. Bedanya, disini jauh lebih tenang dan damai.

Boleh dibilang, Pantai Kuta adalah destinasi wisata paling terkenal di wisata Lombok Selatan. Berada di 56 km dari Kota Mataram, tepatnya di Desa Kuta.

Pantai Kuta dianugrahi keindahan yang nyaris sempurna. Pasirnya putih bersih dengan pantai yang biru, kawasan ini dikelilingi perbukitan. Dari jauh, perbukitan hijau ini tampak seperti mengelilingi beberapa sudut pantai. Kawasan yang cenderung masih tenang merupakan nilai tambah pantai yang luasnya memang tidak sebesar Pantai Kuta di Bali. Keindahan pantai Kuta di pagi hari cukup menenangkan jiwa wisatawan yang berkunjung. Oleh wisatawan mancanegara, limpahan sinar matahari yang hangat ini dimanfaatkan untuk berjemur.

Keunikan Pasir Pantai Kuta Lombok


Keindahan bawah laut pantai Kuta juga memesona. Cobalah bermain snorkling untuk menikmati keindahannya. Bagi yang ingin menaklukkan ombak pantai Kuta yang memang berbatasan langsung dengan samudera Hindia, Anda pun bisa mencoba surfing. Sebuah sajian yang lengkap dari pantai yang masih sepi dari pedagang asongan ini.

Tidak itu saja, jika Anda penikmat ritual budaya, Pantai Kuta menggelar event rutin Bau (nangkap) Nyale antara bulan Februari hingga Maret atau dalam penanggalan Sasak jatuh pada tanggal 20 bulan kesepuluh atau 5 hari setelah bulan purnama. Nangkap Nyale adalah ritual menangkap cacing laut (Nyale) yang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai jelmaan Putri Mandalika. Nyale tersebut biasanya hidup di lubang karang-karang bawah laut yang berada di pantai Kuta. Menurut legenda, Putri Mandalika adalah sosok putri yang cantik dan menjadi rebutan banyak jejaka pada masa itu. Namun karena ia tak ingin menjadi rebutan banyak lelaki maka ia lantas terjun ke Pantai Kuta. Namun, Putri Mandalika berjanji bahwa ia akan kembali setiap setahun sekali. Nyale dipercayai sebagai wujud lain dari rambut Putri Mandalika. Kini Bau Nyale tidak hanya menjadi ritual budaya yang rutin dihelat namun juga merupakan daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ini semua belum cukup, di sini Anda bisa mencicipi makanan khas Lombok yakni plencing kangkung. Olahan kangkung dengan sambal pedasnya ini akan menggoyang lidah Anda sekaligus mengenyangkan perut.

Sabtu, 14 Mei 2016

Gunung Arjuno Dipadati Wisatawan

Libur panjang minggu lalu 5-8 Mei 2016, Gunung Arjuno-Welirang di Jawa Timur dipadati selingkungan 700 orang. Hal ini disampaikan petugas pos pendakian Gunung-Arjuno Welirang di Jalur Tretes, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur Achmad Syukur.

"Pendakian Gunung Arjuno-Welirang sejak tanggal 4 Mei sore. Demi tanggal tiga Mei pagi selalu sepi,"Ekspedisi Jelajah Tanpa Batas All Nissan New Navara pada Pos Registrasi Pendakian Gunung Arjuno-Welirang dalam Jalur Tretes, Rabu (11/5/2016).

Dia mengucap jumlah pendaki dalam libur panjang tersebut makin dominan dibandingkan jumlah pendaki pada selesai minggu. Kalau usai minggu, Gunung Arjuno-Welirang didaki menurut satu kota rata-rata 100 orang.

"Libur kemarin dominan pendaki asal dari Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, Malang, bahkan ada dari Jember," tutur laki-laki dengan bekerja yaitu polisi hutan ini.

Gunung Welirang yaitu gunung yang tetap aktif serta kawah yang tetap mengembuskan asap dan cairan belerang. Gunung tersebut ialah kompleks gunung yang membentuk barisan.

Gunung Arjuno berketinggian tiga.339 meter dalam atas seantero laut juga Gunung Welirang tiga.156 mdpl.

Gunung Welirang mampu didaki dan beraneka arah mirip via Jalur Tretes serta via Jalur Lawang dalam Kabupaten Pasuruan, Jalur Purwosari, serta Jalur Cangar Sumbersari Brantas, Malang.

Saatnya Berjemur di Utrecht

Memperoleh kedekatan emosional dengan rekor serta Indonesia pada masa lampau, serta tak sedikit warga negaranya yang keturunan Indonesia, menciptakan Belanda jadi satu diantaranya kalangan di Eropa yang setap saat dikunjungi oleh orang Indonesia.

Tak cuma sekadar untuk mengenyam pendidikan. Banyak warga Indonesia yang berasal ke Belanda demi berwisata."Kalian beruntung, ini hari awal cuaca di Belanda hangat. Kemarin tetap dingin", kata supir taksi yang menjemput kami.

Keindahan Kota Utrecht


Cuaca hangat yang terupdate dirasakan pada tiga hari terakhir tersebut dimanfaatkan warga Kota Utrecht demi berjemur dengan bersantai dengan kerabat. Cuaca pada Belanda sungguh sedang hangat, waktu tersebut dimanfaatkan tetapi warga dalam Utrecht untuk berjemur sambil membaca buku ataupun memanfaatkan makanan pada bawah sinar matahari langsung. Beberapa lagi menentukan naik kano ataupun perahu dan menyusuri kanal dalam Utrecht.

"Warga bakal menentukan berjemur dan keluar dan menggunakan sepeda ketika cuaca pada Belanda sedang hangat seperti tersebut. Berbagai hari yang lalu cuaca tetap dingin bahkan sempat turun salju. Jadi, cuaca hari ini sangat menyenangkan serta warga menikmatinya", jawab Maaike van der Burg, dari Netherlands Board of Tourism and Convention (NBTC).

Tak heran hampir semua restoran yang ada di pinggir kanal dipenuhi dan warga yang menentukan demi menikmati cuaca hangat dalam Belanda.

"Semoga segala hari ke depan cuaca selalu bersahabat juga anda dapat memanfaatkan perjalanan ini", Ucap Maaike.

Jumat, 13 Mei 2016

Kampung yang Menarik Perhatian

Warga Kampung Sade, Desa Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, bagaikan memasuki sesuatu labirin. Pada kiri kanan berdiri rumah tradisional suku Sasak dengan dinding anyaman bambu juga atap alang-alang. Sesi teras rumah dimanfaatkan merupakan gerai demi memajang aneka kain tenun buatan tangan.

Jarum jam menunjuk lepas pukul 10.00 Wita, berbagai ketika kemudian. Tetapi, matahari selalu redup menyinari Sade akibat terhalang mendung. Kesibukan mencolok kelihatan di beruga, seperti balai tradisional semacam gazebo yang ada pada belakang area parkir, tepat di pinggir tindakan utama Sengkol-Kuta pada NTB.

Wisata Traadisional Desa Sade


Puluhan warga berbagai usia berkumpul. Sebagian memakai sajian nasi dengan sayur kedelai yang sekedar diberi bumbu asam dan garam, sebagian sibuk mencetak kulit ketupat, juga sisanya memasak di tungku kayu. Ketika tersebut, sebagian warga Sade tengah menyiapkan adat ngenguris atau ngurisan, hal ritual mengurangi rambut pembuka bayi yang terupdate lahir.

Puncak acara ngenguris sendiri dihelat keesokan harinya pada makam leluhur. Rakyat Sasak dalam Sade masih teguh memasang tradisi. Dan, aktifitas tersebut dihelat lewat gotong royong dari pertama hingga akhir. ”Ayo, siapa pun boleh asal dan ikut menikmati,” jawab seorang warga sambil menyodorkan sepiring nasi.

Sedangkan ini makin siang pelancong yang asal ke Sade silih berganti, terutama pengunjung lokal. Mereka tiba pada deretan sampingan dan langsung disambut oleh pemandu yang notabene ialah pemuda setempat. Mengenakan sarung dan ikat kepala, merekapun ramah menambahkan waktu sosial serta sejarah kemajuan kampung mereka.

Sehabis mendapat penjelasan singkat dalam post beruga sekanam, pengunjung langsung diajak menyusuri perkampungan. Wisatawan sungguh tidak sebuah terbaru pada mata orang Sade, termasuk anak-anak. Merekapun fasih merayu pelancong untuk merekrut cendera mata, sejak dari gelang, kalung, gantungan kunci, sesudah pasti saja kain tenun buatan orangtuanya.

Orang Sade memang beruntung. Selama ini, tenun dan pariwisata sudah menjadi sumber penghasilan nomor satu, selain bertani. Pada season pancaroba semacam kini, lahan dominan ditanami kedelai serta palawija. Sambil menunggu tanaman panen, otomatis penghasilan dari berjualan kain tenun dan pendukungnya yang jadi andalan untuk memenuhi keperluan keluarga.

Para menenun


”Semua warga dalam sini menenun meski merekapun punyai lahan. Rata-rata lahan dalam sini sempit. Saya juga belajar menenun mulai minor, saat berusia sepuluh tahun,” ungkap Naya’an (40), yang tengah menyelesaikan hal songket pada depan rumahnya. Perempuan Sasak berhasil menghabiskan kondisi satu bulan untuk menenun songket. Sementara demi ukuran yang lebih sampingan, semacam taplak meja atau sajadah, hanya membutuhkan kondisi seorang pekan.

Tenun Sasak memiliki sangat banyak motif, dalam antaranya sabuk antang, subhanala, tapok kemolo, dan ragi genep. Namun, pada perkembangannya, saat ini ada segala produk buatan luar desa yang dijual pada Sade, semacam tas. Bahan tas dari dari tenun karya warga Sade. Oleh karena tidak berada mesin jahit, kain tersebut dijahit dalam luar. Semua produk dihargai bervariasi, sejak puluhan sesudah ratusan ribu, terserah jenis dengan ukuran.

Selain kain, rumah tradisional jadi salah satu obyek menggoda. Saat ini, berada 150 rumah tradisional serta jumlah penghuni sekota 700 jiwa pada kampung itu. Berada 5 bentuk bangunan pada dalamnya, yakni beruga sekenam yang akrab digunakan sebagai lokasi musyawarah memecahkan masalah, sunatan, dengan perkawinan; beruga sekebat demi acara seperti akikah; balai jajar, balai kodong, serta balai tani. Selain itu, berada lumbung yang bentuknya khas.